Untuk para murobbiku dan para sahabatku yang kucintai dijalan Allah.
Bergegas kupacu si Matic Violet kawan karibku dikegelapan malam, berlomba dengan suara guruh yang membahana dan desingan angin September yang angkuh. (
Selama satu setangah tahun terakhir ini ia memang menjadi kawan setiaku hampir setiap malam dan siang dalam langkah-langkah tarbiyahku. Ahh..Seandainya ia boleh mendapat pahala……!)
Aku yakin malam ini aku akan jadi yang pertama.
Terdengar samar lantunan ayat terakhir Surah Al-Hasyr dari dalam bilik Surau itu. Diantara riuhnya kecipak air wudhu ku, aku sangat kenal dengan suara khas itu….
”Hhh dia lagi…” gumamku dalam hati.
Aku kalah lagi, selalu dia yang jadi pemenang, selalu dia yang datang lebih awal. Tapi kali ini aku tidak melihat “kereta tuanya” bersandar dipokok mangga pojok Musholla.
“Assalamu’alaykum Ustadz….antum sehat? Afwan ana telat lagi…..” Aku membungkuk menyesuaikan dengan posisi duduknya yang bersandar ke tiang tengah musholla itu…..sendirian.
“Wa’alaykumus salaam …alhmadulillah ana bikhoir, akhi…wakayfa anta?” Dengan senyumnya yang khas ia menjawab ramah. Pipi kami bersentuhan…ada rasa damai setiap kali aku ber-mu’anaqoh dengan beliau seperti itu.
“Afwa telah membuat antum menunggu Tadz..” aku mengulangi kalimat itu karena dari tadi belum terdengar jawaban tentang hal itu, aku takut membuat hatinya gundah.
Murobbiku itu memang selalu tepat waktu, bahkan saat istrinya sakit sekalipun..beliau tetap datang membimbing kami.
“Tak usah risau antum meninggalkan keluarga dirumah, insya Allah mereka tetap ada yang jaga asalkan sebelum pergi antum penuhi dulu keperluannya. Selebihnya..Tawakkal !” Katanya setiap kali ia men-sugesti kami.
Aku jadi teringat ungkapan Asy Syahid Hasan Al-Banna ketika berpesan kepada para muridnya…”Antum fi da’wa:tikum, waLla:hu fi buyu:tikum / Kalian dalam aktifitas dakwah kalian dan Allah dirumah kalian (menjaga keluarga kalian)”
“Laa ba-sa…yang lain pun belum pada datang kok”. Jawabnya datar.
Mushaf kecil yang dari tadi digenggamnya itu diselipkannya dikantong kokonya.
“Bagaimana kabar si Fathiya, masih sering rewel ? sudah reda demamnya? Ana ingat dulu si Fahim pun juga begitu waktu baru tumbuh giginya” Tanyanya ..tentang anak bungsuku.
Pertanyaan seperti itulah yang selalu membuat hatiku bergetar setiap mendengar itu dari mulutnya.
Beliau selalu ingat nama anak2 ku bahkan selalu menanyakan kondisi mereka satu persatu.
“Nanti antum sampaikan di Khobar saja..!” katanya kemudian beliau sibuk menyambut satu-persatu kedatangan sahabat-sahabatku. Dan lingkaran kecil itu…kini sudah utuh.
Sejurus kemudian, kami sudah tenggelam dalam kenikmatan ukhuwah. Merenda awal malam dengan kebersamaan, mereguk sepuas-puasnya kucuran taujih Robbani hingga hilang dahaga ma’nawiyah kami.
Setiap orang yang mengaku berjama'ah layaknya memang harus sering saling bertemu sesama saudaranya. Untuk itulah ada agenda pertemuan pekanan atau bulanan. Salah satu manfaatnya adalah ta-liful qulub (menyatukan hati), menambah ta'aruf (lebih saling mengenal satu sama lain), kesempatan ber-tafahum (sharing, saling koreksi & menasihati) untuk bisa mewujudkan takaful (saling menanggung beban).
Ukhuwah akan sampai pada makna sebenarnya jika rukun2 nya (Ta'arruf, Tafahhum, Takaful) kita amalkan.
Jgn sampai kita sama dengan orang-orang (baca: Yahudi) yang disebut Allah dalam al Qur'an "TahsabuHum Jami:'an waqulu:buHum syatta / Kalian sangka mereka itu bersatu padahal hati mereka berpecah belah"
Nau'udzu billah wa nastaghfirullah......
Ayo..jangan biarkan lingkaran itu terputus…Akhi !!!
Akhukum Fillah…(Ahmad Hadian Kardiadinata)
Lingkaran Itu Jangan Sampai Terputus….!
Agar Dapat Menikmati Islam
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al-Maidah: 3).
Ayat ini diturunkan pada hari Jum'at, tanggal 09 Dzul Hijjah tahun 10 H, Rasulullah Saw. dan para sahabatnya sedang berkumpul di Arafah, sebuah tempat dekat kota Makkah di Semenanjung Arabia. Mereka sedang menjalani sebuah ritual yang dikenal dengan nama wukuf.
Firman Allah Swt. diatas menjelaskan kepada kita beberapa hal, yaitu,
1. Agama Islam ini adalah agama yang sempurna. Istilahnya kamil. Di dalam agama ini terdapat berbagai penjelasan dan jalan hidup dalam berbagai sisi kehidupan, baik kehidupan ritual, seremonial, pergaulan, sosial, ekonomi, politik, budaya, keamanan dan sisi-sisi kehidupan lainnya. Tidak ada satu pun sisi kehidupan kecuali agama ini menjelaskan mana yang baik dan membawa manfaat dan mana yang buruk yang mendatangkan mara bahaya.
Sampai-sampai Abu Bakar ash Shiddiq ra, dalam sebuah khutbahnya pernah mengatakan "Jika sekali waktu aku kehilangan tali unta ku, maka aku akan cari dalam Qur'an". (Subhanallah, urusan sekecil tali unta saja solusinya ada dlm Quran...apalagi urusan besar tentunya).
2. Agama Islam ini adalah kenikmatan yang Allah Swt. berikan kepada kita secara lengkap. Istilahnya tamam. Terkait dengan Islam itu nikmat, Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita agar selesai makan, atau minum, kita mengucapkan doa, “Al-hamdulillah al-ladzii ath'amana wa saqana waja'alana Muslimin” (segala puji milik Allah Swt. yang telah memberikan makan dan minum kepada kami, dan menjadikan kami orang-orang Islam). Dalam doa yang diajarkan Rasulullah Saw. kepada kita ini ada satu rahasia yang menarik, yaitu Beliau Saw. merangkaikan kenikmatan makan dan minum dengan kenikmatan kita sebagai orang Islam. Hal ini menegaskan kepada kita bahwa agama Islam dan ber-Islam adalah sebuah kenikmatan –bahkan lebih nikmat dari makanan-minuman ternikmat sekalipun.
Mungkin ada sebagian kita yang bertanya, “Kenapa selama ini kita kok tidak atau kurang begitu merasakan Islam sebagai kenikmatan?” Untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa melihat kasus orang yang tidak bisa merasakan nikmatanya makanan.
Paling tidak ada dua penyebab, kenapa kita belum bisa menikmati Islam sama seperti kita tidak bisa menikmati makanan.
• Pertama, mungkin karena lemahnya pemahaman kita terhadap Islam. Karena ketidaktahuan kita, makanan yang sebenarnya lezat, nikmat dan bergizi, tidak mau kita konsumsi. Sepeti anak kecil, untuk mengkonsumsi makanan bergizi, kita harus menyuapinya, dan bahkan mengejar-ngejarnya. Setelah dia dewasa, dan paham, dialah yang gantian mengejar-ngejar kita untuk memenuhi permintaannya. Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan pengetahuan, wawasan dan pemahaman kita terhadap agama kita, agar bisa merasakan nikmat Islam dan ber-Islam.
Tanpa pemahaman yang baik, Islam akan dirasakan sebagai beban berat yang membatasi langkah dan kehidupan kita. Sering kali kita memahami Islam sebagai sesuatu yang buruk, berat, menyiksa, kuno, anti kemajuan dan kebebasan, anti demokrasi, dll. Padahal setelah difahami dengan benar, ternyata Islam itu mudah (memudahkan), Islam itu meringankan, toleran / tidak menyiksa, modern / selaras dengan perkembangan zaman dan Islam adalah agama yang paling demokratis.
Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan (QS al Hajj:78).
Dan diayat-ayat lainnya berikut ini; al Baqoroh:195 (jangan membinasakan diri sendiri), al Baqoroh:185 (Islam adalah kemudahan bukan kesulitan).
• Kedua, orang tidak bisa menikmati makanan, mungkin karena adanya penyakit dalam diri kita, sariawan misalnya. Sehingga, makanan yang lezat dan enak itu menjadi tidak nikmat dan tidak lezat. Selagi dalam hati kita masih ada penyakit yang kontradiktif dengan Islam maka kita tidak akan dapat menikmatinya. Oleh karena itu, marilah kita bersihkan diri dan hati kita dari berbagai penyakit hati dan jiwa –seperti dengki, hasad, sombong / merasa sudah cukup ilmu & hidayah, merasa shohih sendiri dllsb-, agar kita bisa menikmati Islam dan ber-Islam dengan nikmat.
3. Agama Islam adalah agama yang diterima dan diridhai Allah Swt. Istilahnya, agama yang mardhiy. Hal ini sejalan dengan firman Allah swt pada ayat lain dari Al Qur'an, yaitu,
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ اْلإِسْلاَمُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah Swt. hanyalah Islam” (QS Ali Imran: 19).
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS Al Maidah: 85)
Wallahu a’lam bishshawab.
Ternyata masih banyak kejahilan yg harus dientaskan...!
Tersendat laju Inova kami, berada dalam antrean agak panjang. Selain jalannya memang pas-pasan..didepan sepertinya sdg ada sesuatu terjadi.
Padahal kami sdh ditunggu utk sebuah pertemuan dengan masyarakat disebuah Kecamatan didaerah Pesisir.
Semakin dekat kami mulai mendengar dengan jelas lantunan do'a via pengeras suara "Allahummaghfir lahu, warhamhu...wa'afihi wa'fu 'anhu...dst". Kawan ku spontan bertanya.."Siapa nih yg meninggal ??"
Belum sempat aku menjawab tanyanya, tawa kawan tu meledak "memecahkan" seisi kabin...
Masya Allah, ternyata seorang Atok-atok (Kakek2 dlm Bhs Melayu Batu Bara) sambil menggeleng-gelengkan kepala, matanya terpejam, duduk disebuah lapak. Sementara beberapa ibu2 (temannya) menadahkan tangguk ke setiap kendaraan yg lewat.
Disebelah mereka ada masjid yg sedang dibangun lengkap dengan plank "Mohon bantuan infak anda !!".
Tak ada yg salah dari pengumpulan infak spt itu.....cuma -maaf-.....kenapa do'anya kok "agak kurang nyambung?????"
Tawa kawanku masih belum reda...aku hanya bisa tersenyum ciut.
........................................
Suka · · 5 jam yang lalu
Sri Pangastuty, Zay Nurie Syam, dan Herawati Siregar menyukai ini.
Nazrul Ahmad PR para 'alim yg msh harus terselesaikan...
5 jam yang lalu · Tidak Suka · 1
Zulieyka Ahmad Mungkn yg nyumbang uda byk yg meninggal ust hehehe...
3 jam yang lalu · Suka
Ahmad Hadian Kardiadinata Zulieyka Ahmad Hehehe.antah lah kolok begitu...tak sompat betanyo, dah ditunggu urang.
sekitar sejam yang lalu · Suka
Love Tobasari ...he.e.e.e maklum sarana mesjid sbg t4 beribadah dan belajar belum siap lg taz...
41 menit yang lalu · Suka
Ahmad Hadian Kardiadinata Love Tobasari : Iya kita sgt maklum dan tak ada yg salah dgn pungutan infak dgn cara itu. Dlm satu hal saya setuju krn dgn bgt sdh banyak masjid yg kelar dgn megah (meskipun ttp kosong), klwpun menyebabkan macet perjalanan...tak apa lah utk rumah Allah semoga macetnya berkah (ketimbang macet karena hiburan key board / organ tunggal). Yg terkesan gak nyambung itu do'a nya lho.
33 menit yang lalu · Suka
Ada Tempat Kosong di Selasar Surga Firdaus (Materi Halaqoh Tadi Malam)
oleh Ahmad Hadian Kardiadinata pada 09 November 2011 jam 11:14
Bukan aku lancang kepada Mu ya Robb, jika diujung dzikir sunat Fajar ku, kerap ku rutuki langit yang setiap pagi menyirami bumi kami.
Sungguh pohon kemunafikan semakin subur merambati relung hati, dan daun-daunnya merimbuni tubuh bugar para lelaki hingga ia lelap terbuai mimpi.
Maafkan jika sesal ini begitu menyesak dada, setiap kali gagal untuk menepis moleknya teman tidurku. Lalu kubiarkan…kalimat Iqomat..sayup ditelan hangatnya pelukan shubuh.
Allah…., pasti sang Nazir sahabatku itu celingukan selepas salam
Kehilangan teman untuk muroja’ah hafalannya, ketika kugantungkan biji tasbih -yang baru saja tamat ku eja- didekat cermin kamar tidurku.
Bunyi dzikirnya memang terdengar sama, disini dan disana…
Tapi disana…27 kali lebih indah lantunannya, 27 kali lebih kuat gaungnya, 27 kali lebih tinggi derajatnya, dan 27 kali lebih berkah akibatnya dikebersamaan, antara pilar-pilar langit, diatas permadani surga.
Sedangkan aku disini….tenggelam dalam bait-bait sunyi kesendirian, diantara megahnya tiang-tiang rumah duniaku.
Bagaimanapun memang ada selisih….diantara keduanya.
Rasulullah SAW pernah mengisyaratkan bahwa orang yg tidak lurus shaf nya dlm sholat berjamaah di masjid adalah pertanda HATINYA MASIH BERSELISIH DENGAN SESAMA SAUDARA MUSLIMNYA.
Allah…., kalau yg sholat berjamaah di masjid -tapi tidak lurus saja- bisa mengakibatkan hati nya berselisih, bagaimana pula halnya aku yang tidak ikut sholat berjamaah ???? Astaghfirullah..
Kenyataannya, memang begitu banyak hal yang telah menahan kaki kita utk melangkah ke masjid terutama pada waktu Isya' dan Shubuh.
Kita simak taujih Baginda Nabi Saw berikut ini;
Dari Ibnu Mas`ud ra berkata ; “Bahwa aku melihat dari kami yaitu tidaklah seseorang meninggalkan shalat jamaah (di Masjid) kecuali orang-orang munafik yang sudah dikenal kemunafikannya atau seorang yang memang sakit yang tidak bisa berjalan". (HR. Muslim)
Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Siapa yang mendengar azan namun tidak mendatanginya (ke Masjid) untuk shalat, maka tidak ada shalat baginya. Kecuali bagi orang yang uzur". (HR. Ibnu Majah 793, Ad-Daruquthuni 1/420, Ibnu Hibban 2064, Al-Hakim 1/245 dan sanadnya shahih).
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya shalat yang paling berat buat orang munafik adalah shalat Isya dan Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang akan mereka dapat dari kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak. Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api". (HR. Bukhari 644,657,2420,7224. Muslim 651 dan lafaz hadits ini darinya).
Dan Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi” (QS Al Munafiqun : 9).
……………………………………………………………………………….
Ikhwani, Mari melangkah…ke selasar Firdaus (dekat rumah kita), walau jerih !!!
Dari Akhukum Fillah, Ahmad Hadian Kardiadinata.
Nazrul Ahmad, Rudiiskandar Lubis, dan Dahnial Al-Madany menyukai ini.
Ahmad Hadian Kardiadinata :Seorang Murobbi pernah mengatakan :"Klw kalian cari pemimpin yg kepadanya kalian akan serahkan urusan kalian sebaik-baiknya...rajin2 lah datang ke masjid terutama diwaktu Isya & Shubub...dan pilihlah satu diantara yg hadir disana...!!! Hmmmm
Kemarin jam 11:26 · Suka · 3
Rahman Efendi Ar ini juga materi kita pekan lalu kan? dari materi ini pekan lalu, muncul inspirasiku menulis surat cinta untuk murobbi. Sudah ditulis, tp belum dikirim... hehe...
Kemarin jam 14:08 · Suka
Muhammad Syukur Ismar hm
18 jam yang lalu · Suka
Ahmad Hadian Kardiadinata Benar akhi krn ana ingin memastikan semua kita mengulang materi lama ini, krn sptnya ini adalah masalah semua kita dlm menghadapi tarikan2 dunia ini.
Oya lomba surat cinta utk Murobbi kapan dikumpul ya?
9 jam yang lalu · Suka
Andai Izrail Bisa Diajak Diskusi...
oleh Ahmad Hadian Kardiadinata pada 27 Oktober 2011 jam 15:27
Kemarin sore seorang sahabat tergopoh menelpon saya dengan tangis..” Akhi, Ayah saya barusan wafat di Makkah sehabis thowaf…” katanya memburu. Saya spontan menulis sms & menyebarkannya “Nanti malam kita ta’ziyah dan sholat ghaib” begitu sms saya.
Ketika ta’ziyah itulah baru saya tahu bahwa Almarhum sebenarnya tercatat akan berangkat ke Tanah Suci tahun depan. Beliau mendapat prioritas dipercepat melalui tambahan quota mengingat usianya yg sdh 82 tahun.
Beberapa bulan yang lalu, seorang sahabat juga harus melepas kepergian Ayahnya yang wafat ketika sedang berlibur di Sabang (Kota paling Ujung Barat Indonesia), sebuah tempat yang cukup jauh dengan kota tempat tinggalnya.
Sehari-hari orang tua itu tinggal dan berusaha bersama anak-anaknya dikota kelahirannya. Saat lebaran mereka berlibur ke tempat yg cukup jauh…dan ternyata disanalah ajalnya tiba.
Teringat kita pada firman Allah swt “Ma: tadri nafsun fi ayyi ardhin tamu:t (Seseorang tidak akan tahu ditanah mana ia akan mati)”.
Setiap kita mulai melangkahkan kaki dalam keseharian kita, pastinya tidak pernah terfikir dalam hati kita untuk mati dalam perjalanan itu atau ditempat tujuannya, namun kenyataannya….setiap manusia akan mendatangi tempat kematiannya yang telah “disepakatinya” dahulu dialam arwah dengan Robb nya.
“Walan yu-akhhiroLla:Hu nafsan idza: ja:a ajaluHa (Dan Allah tidak akan menunda sejenakpun kematian bagi seseorang jika telah datang ajalnya)”
………………………………………………………………………………………………………………………………………
Rintik diluar jendela, telah membasahi hati yang berdetak seirama “Khusnul Khotimah” nya Opick yang begitu mengharu biru…..memaksaku belajar mengeja kembali kalimat-kalimat dzikrul maut itu.
“ Terangkanlah, terangkanlah jiwa yang berkabut langkah penuh dosa. Bila masa tlah tiada…kereta kencana datang tiba-tiba. Air mata dalam duka, tak merubah cerita Nya. Hanya hening dan berjuta Tanya, dalam resah dalam pasrah..”
Ahh…andai kita boleh memilih kapan dan dimana kita harus mati? Andai Izrail bisa diajak berdiskusi…?
Tapi kata Asy Syahid Hasan Al Banna Rah ;”Kematian itu sesungguhnya sebuah SENI yang bisa kita kreasikan sendiri (khususnya) dalam NILAI KEMATIAN nya.
Kita bisa meraih Husnul Khotimah jika kita senantiasa berada dalam kesholihan setiap hari dan kita akan Suul Khotimah jika kita asyik dalam maksiat. Bukankah ajal itu datangnya tiba-tiba?
Saya pernah membaca berita tentang seseorang yang mati saat sedang (maaf) berselingkuh.
Masya Allah…pasti waktu itu ia tidak sedang ingat mati, sebab jika ia ingat mati maka ia tidak akan seperti itu.
Maka setiap kita mulai melangkah dalam keseharian kita, tak ada salahnya jika kita gumamkan dalam hati kita…”Jangan-jangan aku mati diperjalanan ini atau ditempat tujuan nanti..” Insya Allah kita tidak akan mampir ditempat-tempat yang tidak semestinya.
Saudaraku…Entah kapan, dimana dan dengan cara apa kita akan “menepati janji” kita…..Allahu a’lam.
Salam Ukhuwwah…..
Akhukum Fillah (Hadian Abu Al Ghozy Fillah)
Sri Pangastuty, Zulfan Mingka, Rahman Efendi Ar dan 19 lainnya menyukai ini.
8 yang dibagikan
A Dudi Krisnadi Orang yang yakin dalam hatinya sepenuh jiwanya bahwa kehidupan di seberang kematian jauh lebih baik dari saat ini, akan selalu merindukan mati.
(dalam konteks lain) Jadi, merupakan pekerjaan sia2 mengancam akan membunuh orang yang justru merindukan mati. Adalah mustahil menenggelamkan ikan ke dalam air ... :D
27 Oktober jam 15:43 · Suka · 1
Ahmad Hadian Kardiadinata A Dudi Krisnadi : Benar Kang, Kematian itupun bentuknya bisa berbeda dihadapan manusia yg berbeda. Adakalanya ia sebagai momok ada kalanya bisa sebagai cita2.
27 Oktober jam 15:48 · Suka
Zulieyka Ahmad Andai sj pemimpin2 kt slalu ingat bhw kmatian akan dtg tanpa diduga ....
27 Oktober jam 15:50 · Tidak Suka · 1
Ahmad Hadian Kardiadinata Zulieyka Ahmad : Ayo pilih pemimpin yg selalu ingat mati....
27 Oktober jam 15:51 · Suka · 1
Sulaeman Panjaitan Yang menepati janji panggilanNya sudah selesai tugasnya di dunia ini, KITA ????? sudah siapkah??????? bekal kita pulang kampung sejati ALLAHUMMA AINNI ALA ZIKRIKA WASYUKRIKA WA HUSNI IBADATIKA, salah satu ziqir Rasulullah SAW, yang patut kita ziqirkan juga Semoga Allah SWT merahmati kita amin
27 Oktober jam 16:09 · Tidak Suka · 1
Ningsih Erlina · Berteman dengan Masbar Banu dan 99 lainnya
Subhanallah ust tausiah nya...sudah mengingatkan ttg kematian...semoga umur yg tinggal sedikit ini dapat bermamfaat buat diri dan org lain.Aamiin.
27 Oktober jam 22:10 · Suka
Ahmad Hadian Kardiadinata Bu Ningsih Erlina : Aamiin...bgm kabar si kecil ?
27 Oktober jam 22:13 · Suka
Muhammad Syukur Ismar kita ajak yok
28 Oktober jam 9:03 · Suka
Muheri Abdullah subahanallah wal hamdulilah wala ilahaillahu akbar....status antum selalu menyejukan jiwa2 perindu syahid/syurga..slm bahagia dunia akhirat
28 Oktober jam 12:50 · Suka · 1
Ummi Ellys subhanallah..
28 Oktober jam 13:32 · Suka
Erwin Parlindungan Nst mudah2han tausyiah ustdz memperkuat keimanan, dengan seringnya mengingat mati...
01 November jam 12:35 · Suka
Ta’aruf Kecil di Teras Masjid : “Nama saya Umar Akhir Zaman….”
oleh Ahmad Hadian Kardiadinata pada 24 Oktober 2011 jam 22:57
“Nama saya Umar.... ustadz, Umar Akhir Zaman ! Saya suka dengan beberapa bagian khutbah Jum’at ustadz tadi” begitu katanya sambil erat menggenggam telapak tangan ku. Agak ter heran aku mendengar nama orang ini..”Umar Akhir Zaman”.
“Ahlan akhi, maaf kalau tadi agak keras. Bagaimana kabar keimanan anda hari ini?” Tanyaku, sedikit meniru tata cara menyapanya para Salafush sholih.
“O gak apa-apa ustadz memang harus begitu, Rasulullah kalau khutbah bahkan seperti panglima perang yang sedang memberikan komandonya dimedan laga, suaranya lantang dan wajahnya memerah seperti orang marah. Kalau kabar iman saya….Biasa lah ustadz, kadang hidup kadang mati” Suaranya datar tanpa beban, sedatar senyumnya yang menurutku sih agak sinis.
“Wah jangan sampai mati dong !” Sergahku cepat-cepat.
“Begitulah adanya ustadz…kalau para Sahabat Nabi dahulu, imannya turun naik macam harga Sawit. Tapi kalau kita sekarang hidup mati macam nasib rakyat kecil”. Singkat tapi padat penjelasannya meskipun kesannya cenderung vulgar, agak tidak sinkron dengan jenggot nya yang dibiarkan panjang dan kostum gamis tanggung dan celana ngatung nya.
“Nastaghfirullah…..” Kataku..mencoba dgn kalimat selirih mungkin.
“Maka beginilah kami, dari masjid ke masjid menyisihkan sedikit waktu utk menjaga iman kami tetap hidup. Kalau kami dirumah saja….kami takut iman ini mati”.
“Iman ini bisa tinggi kalau dunia kita rendahkan ustadz, sebaliknya iman akan rendah kalau dunia selalu kita tinggikan. Saya kadang malu menyandang nama besar Umar ini…sebab saya tidak sebaik Umar bin Abdul Aziz apalagi jika dibanding dengan Al Faruq, Umar bin Al Khothob. Mereka adalah para pemenang yang telah mampu mengalahkan buasnya dunia, sedangkan saya hanya Umar Akhir Zaman…yang sering kali kalah oleh kebuasan dunia”. Dia menambahkan, sembari tetap menggenggam telapak tanganku erat dan sesekali menguncang-guncangnya..sementara aku serius menyimak setiap kalimatnya yang lugas.
Dalam hati aku bergumam “Benar juga semua yang diucapkan orang ini, baru aku ngeh dengan nama yang diperkenalkannya”, tak terasa mataku berkaca-kaca.
Kami berangkulan erat sebelum berpisah….
“Tak usah berkecil hati Saudaraku, kita memang tak sebaik para sahabat karena zaman kita sekarangpun tak sebaik zamannya sahabat…dan karena guru kita pun tak sebaik gurunya para sahabat Rodhiyallahu anhum…(Rasulullah SAW), asalkan kita tetap menjadi pecinta sunnah beliau insya Allah kita akan tetap jadi orang baik” Kataku memungkas percakapan.
Ditengah jalan pulang hatiku masih dilekati dengan sisa-sisa nasihatnya yang tajam, sebagimana aroma tajam parfum non alkohol yang dipakai si Umar yang sudah berpindah melekat di gamisku.
“Terima kasih ya Robb…Engkau telah mengirim orang itu kepadaku…!”
(Hadian Abu Ghozy Fillah)
Rahman Efendi Ar, Khoir Rambe, Sri Pangastuty dan 11 lainnya menyukai ini.
1 berbagi ini
Nazrul Ahmad Subhanallah...
25 Oktober jam 18:05 · Suka
Mukhlis Mirza Siregar suatu pljrn yg sarat makna akhi, Subhanallah...
25 Oktober jam 20:55 · Suka
Muheri Abdullah saran: cerita diatas bisa jd inspirasi awal membuat sebuah novel berjudul Ta'aruf kecil di Teras Mesjid...lanjutkan akhi...
26 Oktober jam 15:13 · Suka
Sri Pangastuty subhanallah.....terima kasih pelajaran yg sangat berharga buat saya Ustadz
27 Oktober jam 0:22 · Suka
Ahmad Hadian Kardiadinata
Muheri Abdullah : Novel ?? hehehe. Saya ini sebenarnya sdh mulai menulis cerita sejak kelas 2 SMP akhi, cuma mmg tdk terpublikasikan krn maklum dulu anan tinggal di kampung. Wkt SMA ada beberapa Puisi saya yg dimuat di sebuah koran (itupun...Lihat Selengkapnya
27 Oktober jam 9:42 · Suka
Ahmad Hadian Kardiadinata All : thanks dukungannya...
27 Oktober jam 9:43 · Suka
Puasa Tapi Pacaran..................
(Sebuah Catatan Ahad Pagi Ramadhan 1432 H)
Minggu pagi 14 Agustus 2011 / Ramadhan ke 14, agak bergegas aku mempersiapkan diri untuk sebuah perjalanan dakwah, mengisi Taklim Ahad Dhuha disebuah Desa yang terletak hampir di perbatasan antara Kabupaten Batu Bara dengan Kabupaten Simalungun. Desa yang tentram menurutku, berada diantara rimbunan pepohonan dan perkebunan kelapa sawit jauh dari hingar-bingar kendaraan bermotor. Yang banyak terlihat justru iring-iringan sapi gembalaan milik penduduk, agak nampak “kontras” dengan cukup banyaknya rumah-rumah permanen yang cukup megah dengan desain modern.
Kusiapkan materi dalam Laptop -yang sudah 4 tahun ini selalu setia menemaniku-, proyektor dan ..ups..ternyata screennya belum ada. Alhamdulillah seorang ustadz bermurah hati meminjamiku.
Sahabat2 yang telah dijadwalkan akan mendampingiku entah kenapa pada hari itu semuanya berhalangan karena mereka masing2 punya agenda yg tidak bisa ditinggalkan.
Akhirnya aku mengajak seseorang untuk bersedia mendampingiku dalam perjalanan itu.
Acara taklimnya sendiri alhamdulillah berjalan normal seperti biasa, dimulai sekitar jam 09.00 dengan Shalat Dhuha bersama, ada beberapa sambutan dari Kepala Desa & Tokoh Masjid setempat lalu giliranku mengisi materi.
Yang istimewa pada agenda kali ini adalah, aku begitu menikmati perjalanan ini. Obrolan-obrolan yang asyik sepanjang perjalanan diselingi canda tawa kala melintasi rimbunan pohon-pohon sawit dan karet, telah membuat hati kami berbunga-bunga. Betapa tidak, kali ini yang duduk disampingku adalah seorang wanita. Dia istriku tercinta....,wanita yang setiap kali kalau aku ta’arruf sebelum memulai berceramah selalu kuperkenalkan kepada jamaah bahwa “istri saya empat...anaknya”. Seringnya jamaah ibu-ibu spontan merespon..”Uuuhhhhh” sambil tertawa, sebab dengan kalimat yang pemenggalannya dibuat agak tidak normal itu mereka mendengarnya seolah istriku ada empat. Ah itu sekedar trik saja untuk memancing perhatian mustami’.
Yah hanya dia kawan seiring hari itu, sebab anak-anak tidak kami ajak serta. Entah kenapa hari itu kami hanya ingin berdua.
Jadilah perjalanan kali ini perjalanan yang sarat dengan kenangan...seolah mengulang masa-masa pacaran 15 tahun silam ketika pertama kali kami bersama dalam ikatan pernikahan..kemana-mana hanya berdua sebelum ada di Si Teteh -anak pertama kami-.
Ketika seorang jamaah bertanya tentang yang dilarang ketika berpuasa.....sambil berseloroh aku menjawab; “Berpacaran itu gak puasa pun memang sudah terlarang, kecuali pacaran dengan istri tercinta. Cuma kalau sedang puasa ya harus tahu juga batasan-batasannya agar tidak sampai membatalkan puasa kita...seperti kami (aku dan istri) tadi sepanjang jalan kami pacaran....”
Ketika aku menuliskan kisah perjalanan ini, aku baru sadar bahwa bulan ini Agustus 2011 (tepatnya 31 Agustus) adalah genap 15 tahun pernikahan kami. Subhanallah................
Terima kasih ya Robbana..Engkau telah mengaruniakan ku seorang istri yang setia mendampingi perjalanan hidupku.....Di hari-hari mustajab do’a dibulan mulia ini, ijinkan kami berharap...”Kekalkan kebersamaan ini dijalan dakwah dan ridho Mu, dan persatukan kami kembali kelak di Jannah Mu bersama semua buah hati kami...dan sekalian orang-orang mukmin!”
Robbana: hablana: min azwa:jina wa dzurriyyatina: qurrota a’yunin..waj’alna: lil muttaqi:na ima:ma:, Aamin.
...untuk 15 tahun pernikahan kami.
Kepada Diriku Sendiri dan Saudaraku

No one Perfect...My Brother !
Saya jadi teringat akan kisah "Sebutir Pasir Didalam Kaos Kaki". Bagaimana seorang pemanjat tebing yang berpengalaman bisa gagal menaklukan tebing terjal yang sudah menjadi langganannya, bukan karena ia tak punya peralatan lengkap, bukan pula karena kurang latihan dan pemanasan, bukan pula karena tak siap mental......tetapi hanya karena ia tidak hati-hati ketika ia mengenakan kaus kaki sebelum berangkat.
Ternyata didalam kaus kakinya terdapat sebutir pasir yang terselip diantara jari-jari kakinya.
Semakin aktif ia melangkah menapaki terjalnya tebing curam itu, semakin tinggi ia mampu mendaki, peluh pun mulai membasahi sekujur tubuhnya. Dan saat itulah sang sebutir pasir itu "menemukan momentumnya". Dengan gesekan-gesekan halus namun intens...sebutir pasir itu telah dengan perlahan menimbulkan rasa sakit yang kian lama kian sangat mengganggu, tidak seberapa memang sakitnya tetapi cukup membuat konsentrasi sang pemanjat tebing buyar....dan...iapun jatuh terpelanting dari ketinggian...Inna lillahi wa inna ilayhi raji'un.
Musibah seperti ini bisa menimpa siapapun dari kita, sebab kita bukan manusia sempurna. Serapi apapun kita persiapkan diri kita, terkadang masih saja ada yg terlewatkan.
Ayyuhal Ikhwah.....mari kita jadikan segala sesuatu yang terjadi depan mata kita sebagai Ibroh, agar kita semakin dewasa dalam melangkah. Terlebih dengan beban amanah yang semakin sarat dipundak kita.
Semoga masih ada tali yang telah terpasang dimana kita bisa bergelayut, ketika suatu saat musibah ini menimpa kita.
103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS Ali Imran:103)
Kidung Sang Pendosa

Tadi malam, setelah lingkaran itu usai,
setelah satu persatu sahabat beranjak...
aku menekuri kembali kata perkata yg tadi aku titipkan pada mereka.
Bagai gerimis sinar bulan sabit itu ya Tuhan...
merasuki hati yang basah berpeluh...
tanpa lelah memohon.
Engkau tutupilah tetap aib diri ini...
bagai pekat malam atas rembulan,
biar tak jadi jelaga diwajah dakwah.
Dan aku tetap nikmati sakitnya menebus dengan langkah-langkah pasrah...
hingga batas telapak kaki MU.
untuk KAU campakkan aku dalam jurang ridho MU.
Seperti titah MU, "Memintalah...Aku berikan!!!"
Dimana air mata Al Faruq..yg dulu kerap tertumpah sederas sesal???
ingin kubasuh jasad ringkih ini disitu, seraya bertelanjang dari kemuliaan...yang Engkau sedikit berikan
Yaa Salaam...aku jauh lebih buruk dari itu...
hingga pantas..kehinaan itu bagiku.
Lihatlah..
Peluh dan air mata ini bersekutu dikubangan kecil bekas jejak-jejak kakiku
Dan aku tetap nikmati sakitnya melangkah dijalan ini...
asalkan..Engkau tak murka wahai Kekasih.
Karena Junjungan ku ada bersabda: "Satu orang saja berubah dengan hidayah karenamu, itu lebih baik bagimu daripada dunia dan seisinya".
Indrapura, Batu Bara : 05042011
Entah Apa Ini Namanya ??
Inginnya kususun serpihan hati ini jadi mozaik
yg menjelaskan bahwa cinta ini milikku jua, walau abstrak.
Lantas kemana wasiat seribu makna yg kutinggalkan diantara guguran kelopak mawar jingga suatu senja?
Harap ini masih tanpa pigura.
Tak berbatas. entah kan berhenti dimana?
Ya muara itu niscaya,
tapi aku bagai sungai yang harus mengarungi berbilang ngarai.
Terkadang jeram yang perih....berbatu tajam mencabik arus.
Sedangkan beban dipunggungku begitu sarat, kayu dan ranting2, sampah dan limbah...
telah membebat langkah...mengirit debit...Mampukah sampai disana?????
133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun s...empit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.135. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.136. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.(QS Ali Imran)
Itulah sungai rinduku, itulah limbah bebanku, itulah muara harapku....
cinta..biarlah mengalir begitu adanya menuju sang Maha Pencinta..
dan aku hanya terus bermohon...jangan padamkan matahari...diri Mu yang Ghofar, agar tetap ada bayang-bayang, dimana sekujur aib ditubuh ini kusembunyikan.
Indrapura, Batu Bara 05042011
DAREUDA
Lamun enya sumirat teu jalir jangji
naha atuh ibun janari ilang genyas na?
Pasini nu kungsi unggah, kiwari kari waasna.
Heug atuh urang paluruh, sugan we aya bewara ti halimun nu ngabangbaluh.
Geura iberan ka kuring, kamana asih nu kungsi ngancik ?
Dimana kacinta nu baheula diguar kuduaan balakecrakan,
sisi talaga leuweung Cibodas ?
Naha ciri kaasih keur anjeun, tumali keneh na jariji nu manis ?
.........................................................................................
Basa girimis kamari, sagala tanda tanya ahirna suda.
Katumbiri cumarita jeung layung bungur....dumareuda.
Cenah, aya kaca-kaca dipakarangan hate anjeun
cirining bakal aya nu sumping, jajaka geusan kanca salira.
Gusti....naha poek mongkleng kieu ?
Yugakeun ka abdi kaasih Anjeun
pioboreun keur nu poekeun.
Seja neangan caraka cinta nu lunta !
Medan....1991.
Monolog Rindu Sekeping Hati (yang tersisa dari jejak mudaku)
Tak kan mungkin kukubur rindu ini
Sedangkan ia bagaikan ruh yang mengawang, ada tapi tiada.
Dan tak hendak kubunuh pula, sedangkan ia adalah tiang pancang
dimana asa ini berumah.
Seperti camar…bagaimana mungkin tanpa tiang sampan ???
Atau kubuatkan saja ia jasad, agar bisa hinggap dan menetap ?
Ah ..tak usahlah, nanti aku bosan.
Oo iya, akan kubuatkan sebuah nama saja
Agar bisa kupanggil ia, ketika aku luruh dalam do’a-do’a
Atau kala tangisku tumpah atas sajadah.
Ups tidak.., bahkan jika aku tengah suka
Sebab aku tak mau ia hanya sbg penghibur duka
Tapi juga teman tertawa…dan bercengkrama.
Terbanglah rinduku….kau boleh sembunyi dibalik awan
Atau diantara liukan daun nyiur itu
Atau dimana saja kamu suka
Nanti jika aku memanggilmu…
Turunlah seperti bidadari…..
Dan aku punya banyak cerita.
Medan, 1993
P..e..s..a..n
Semuanya telah ter-adu-kan, kini rapi tanpa lipatan
Tinggal mari kita fikirkan apa nak kita gambarkan diatas kain putih ini?
Belacu..bukan beludru..sepertinya tiada guna terlalu
Tapi tetaplah kau simpan ia, sebab disatu saat mungkin ia akan menjadi pengusap peluhmu
Atau penyeka air matamu..bahkan pembalut lukamu???
Ah tak hendak aku melihat engkau terluka, ku takut tak kan ada lagi cerita yang kau urai pengantar penat siangku.
Kemarin..kala kain putih ini tercampak
Selembar daun kering menutupinya, tersamar seakan tak ada arti
Lalu sepasang kepodang mengepak sayap didekatnya…
Tersibak….dan aku menemukannya.
Kau simpanlah sahabat…dekat peraduanmu
Sewaktu-waktu bila kau perlu..jemput tanpa ragu
Kau bawalah sejauh pergimu
Agar jika kau pulang…bait sajakku telah usai kugubahkan
Dan sapu tangan itu…biar jadi latarnya.
Indrapura, 040311
Ibroh Dari Perceraian Artis
Saya sebenarnya gak suka membahas sesuatu tentang artis, apalagi mendalaminya sebab hampir selalu tidak ada contoh baik yang bisa diambil sebagai pelajaran. Tetapi kali ini saya tertarik untuk membicarakannya, mulanya karena media begitu gencar mengekspos berita bercerainya pasangan Anang & KD. Mau tidak mau saya sempat "mengikuti" serba terbatas cerita penyebab retaknya rumah tangga mereka. Saya fikir ada satu pelajaran menarik dari kisah mereka ini, yang tentunya agak berbeda dengan kasus serupa yang melanda artis-artis lain.
Dimana letak pelajarannya ?
Menurut media; Anang menceraikan KD karena ia mendapat laporan dari anak sulungnya Titania Aurelia (12 th) bahwa istrinya telah berselingkuh dan anak2 nya memberikan kesaksiannya tentang itu. Saya gak mengikuti bagaimana pengakuan anak2 Anang tsb, namun belakangan ada komentar Yuni Shara (kakak nya KD) di media hari ini, bahwa Yuni Shara sakit hati dengan kesaksian keponakannya itu. Aurel disebut Yuni sudah lancang terhadap ibunya sendiri. "Apakah cipika-cipiki (cium pipi kiri & kanan) sudah otomatis berselingkuh???" begitu kata Yuni berang.
Nah...disinilah letak pelajarannya.
Saya melihat kasus ini adalah satu dari sekian banyak kasus yang saya kasih judul "Kesenjangan Pemahaman Agama Antara Anak dan Orang Tua" dengan sub judul "Orang Tua Yang Gagal Menjadi Teladan".
Terlepas dari benar tidaknya sang istri berselingkuh (kita tidak boleh menuduh dan saya tidak mau membicarakan ini) Yang jelas telah ada kesenjangan pemahaman antara KD dengan anaknya Aurel. Saya melihat bahwa Aurel yang nota bene seorang anak gadis yang baru memulai kedewasaannya –menurut media lagi, dia baru saja mengalami haid pertamanya- adalah anak yang telah faham mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Kalau tidak salah anak anak pasangan artis ini disekolahkan disebuah sekolah islam ternama di Jkt (saya sempat melihat label sekolah itu dibaju seragam mereka). Karuan saja mereka telah mendapat didikan agama yang baik disana dan telah memahami bahwa bercampur baur (ikhthilath) dengan lawan jenis yang bukan muhrim itu adalah haram dan dilarang Allah...(apalagi cipika-cipiki). Dipihak lain, ibunya sang anak menganggap hal itu sah-sah saja (termasuk Yuni Shara yang merasa "diserang" dengan pemahaman keponakannya). Masya Allah....inilah pelajarannya. Kita sekali lagi disuguhi dengan realitas yang mewakili sangat banyak sikap orang tua seperti ini. Mereka menyerahkan anak-anaknya untuk diajari agama dengan sebaik-baiknya tetapi tidak diikuti dengan sikap memberi tauladan yang baik bagi anak-anak nya. Mereka suruh anak-anaknya menjadi anak sholih tetapi orang tua tidak mau memberikan contoh kesholihan. Astaghfirullah. Akhirnya orang tua berada dalam satu dunia dan anak-anaknya berada dalam dunia lain. Sunggu ironis. Seolah-olah segala kesalahan orang tua itu akan "selesai" jika ia memiliki anak yang sholih.
Saya adalah orang tua, kita adalah orang tua.....yang seharusnya menjadi qudwah / tauladan bagi anak-anak kita. Ki Hajar Dewantara pernah menggaungkan semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo, orang tua itu harus selalu berada digaris depan dalam hal memberi teladan.
Saya yakin kita sepakat tidak ingin "ditegur" Allah seperti DIA pernah menegur kaum yahudi dahulu.
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS 2:44)
Kita orang tua memang seharusnya menuntun dari depan, ibarat orang yang memandikan kuda, ia masuk duluan kedalam air baru kudanya mengikuti kemudian, jika tidak.....jangan harap kuda itu mau mandi.
Allahu a'laam.
ISLAM, Rahmatan lil 'alamin.
Lama-lama terusik juga hati nurani ini setelah setiap hari kita disuguhi dengan berita-berita miring tentang telajak manusia –khususnya para elit (elit pejabat, politik, pengusaha, budaya dll)- yang kian hari kian “memuakkan”.
Selaku seorang Muslim tentunya kita juga pasti terusik dengan kondisi ini dan merasakan miris bahkan bukan tidak mungkin akan merasa malu. Betapa tidak, dinegeri yang konon mayoritas muslimnya bahkan dikenal sebagai negeri muslim terbesar didunia, ternyata keberadaan umat Islam dinegeri ini tidak serta merta melahirkan situasi dan kondisi yang membahagiakan. Kesemrautan terjadi dimana-mana dan hamper disetiap sector dalam kehidupan kita dinegeri ini. Dibidang hokum, keadilan sudah tidak sesuai lagi dengan namanya, ekonomi dikendalikan oleh manusia-manusia rakus harta yang lupa kalau ia akan mati juga. Amanah rakyat diselewengkan dan diarahkan untuk menguntungkan diri para elit saja. Disisi lain, kemaksiatan terus berjalan secara sistematis bahkan sudah terstruktur dengan rapi sehingga berjalan mulus tanpa rintangan yang berarti. Masya Allah….sampai kapan kondisi seperti ini akan berangsung?
Padahal dinegeri yang mayoritas muslim seperti ini, sangat tidak pantas kondisi seperti ini terjadi. Bukankah Islam adalah Rahmatan lil ‘aalaamiin ? Kehadiran Islam seharusnya menjadi rahmat –sesuatu yang berangkat dari kebaikan dan selalu berujung dengan kebaikan- Rahmat artinya belas kasih, maka nilai-nilai islam sebenarnya adalah nilai cinta kasih dalam segala lini kehidupan manusia.
Ada satu pertanyaan besar yang senantiasa menggelayut dalam benak kita, jadi kenapa keberadaan islam yang besar dinegeri ini tidak membuahkan rahmat???
Pertanyaan ini akan segera terjawab jika kita membuka al Qur’an yang menjadi pedoman dan rujukan bagi segala permasalahan hidup kita.
Dalam Qs al Isra [17]:80-82 Allah SWT berfirman;
80. Dan Katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong[866].
81. Dan Katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.
82. Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.
Menurut para ulama tafsir, ayat ini berkaitan dengan perintah Hijrah kepada Rasulullah saw. Beliau diperintahkan pergi meninggalkan Mekkah yang sangat tidak kondusif untuk dakwah Islam dan dipilihkannya Yatsrib sebagai tanah air baru bagi dakwahnya.
Kelak Yatsrib memang menjelma menjadi pusat pencerahan bagi dunia yang menebarkan keadilan, kesejahteraan, kemakmuran dan segala kebaikan. Karena itulah Yatsrib berganti nama menjadi Madinah al Munawwaroh (kota yang menyinari).
Nah jika sebuah negeri ingin menjelma menjadi negeri yang baik, menjadi rahmat bagi bangsanya bahkan mampu menyinari / menjadi rahmat bagi negeri-negeri disekelilingnya, para elitnya menjadi elit-elit yang baik, yang mengayomi rakyatnya dan menjadi tauladan bagi semua…Tidaklah sulit sebenarnya syaratnya kita semua harus sepakat terlebih dahulu untuk meniru, mencontoh dan melaksanakan konsep perubahan yang dilakukan oleh Rasulullah saw sebagaimana beliau merintis perubahan itu di Madinah al Munawwaroh.
Mari kita perhatikan;
Ketika Rasulullah saw meninggalkan Mekkah waktu itu, beliau diajarkan oleh Allah melakukan serangkaian prosedur yang benar melalui kalimat do’a. Sambil bermohon dan berserah diri kepada Tuhannya, beliau melaksanakan seluruh prosedur itu dengan seksama.
1. رَبِّ أدْخِلْنى مُدْخَلَ صِدْقٍ Masuk secara benar, artinya memasuki segala permasalahan dalam kehidupan ini secara benar (sesuai denngan syariat Allah dan aturan-aturan dunia yang berlaku). Cara masuk yg tidak benar adalah kebalikan dari itu.
2. وأخرجنى مخرج صدقٍ Keluar secara benar, artinya menyelesaikan segala permasalahan secara benar sesuai konsepsi syari’at Allah dan aturan-aturan dunia yang berlaku.
3. واجعل لى من لدنك صلطاناً نصيرا Senantiasa berseraah diri kepada kekuatan Allah, sadar bahwa yang paling kuat itu adalah Allah, yang menolong adalah Allah. Maka akan lahirlah sikap tawadhu’ jauh dari kesombongan dan arogansi.
4. جاء الحقّ وجاهق الباطل Setelah itu maka akan bertahtalah kebenaran dan lenyaplah kebathilan.
5. وننزل من القرأن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين Jika sudah begini, maka Qur’an akan menjadi solusi (penawar) dan rahmat bagi orang-orang beriman. Orang-orang beriman yang sudah merasakan rahmat inilah yang akan mampu menebarkan rahmatnya bagi sekalian alam.
Jadi, tanpa melalui prosedur tetap seperti ini yakinlah tidak akan mungkin Islam akan dinikmati sebagai rahmat dan orang islam pun tidak akan mungkin mampu menjadi rahmat bagi yang lainnya.
Betapa tidak semrawutnya negeri ini, mari kita introspeksi diri sebab pada kenyataannya untuk masuk kedalam wilayah kepemimpinan saja dinegeri ini belum melalui prosedur yang benar. Pemimpin dipilih bukan karena potensi kebaikannya tetapi lebih sering dipilih karena uangnya tidak peduli bobrok akhlaknya. Kondisi ini lah yang saat ini dimanfaatkan oleh para oportunis dimana mereka maju menjadi calon pemimpin hanya bermodalkan uang semata selebihnya popularitas kecabulan yang mereka miliki. Memang adalah hak setiap orang untuk tampil karena itu dilindungi undang-undang, tinggal lagi kitalah rakyat yang harus jeli melihat dengan mata hati yang jernih tentang siapa yang pantas menjadi pemimpin kita.
Dinegeri ini sudah jadi rahasia umum, bahwa rekrutmen pegawai pun nyatanya harus memakai uang rusywah yang jelas-jelas bertentangan dengan keridhoan Allah. Inilah cara-cara masuk yang tidak benar.
Disisi lain, untuk keluar dari permasalahan pun kita belum menggunakan cara-cara yang benar. Sering kita saksikan, sebuah kezholiman diselesaikan dengan kezholiman baru. Untuk dapat keadilan ternyata harus melakukan ketidak adilan. Astaghfirullah al ‘azhiim.
RASA MALU salah satu kunci kesholihan manusia
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق وأيده بالحفظ والنصرة، وأعزّ أصحابه الطيبين الطاهرين والصلاة والسلام على سيد الأولين والآخرين، إمام الغر المحجلين.
اَللَهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّد وَعَلَى آَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ وَنَصَرَهُ وَوَالاَهُ.
أَمَّا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ اللهِ, أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّاىَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
Tidak henti-hentinya negeri kita ini diguncang prahara dari mulai prahara yang dating sendiri tanpa diundang yaitu bencana alam hingga prahara yang secara langsung dibuat oleh tangan-tangan manusia berupa kerusuhan, bentrokan fisik, kecelakaan yang disengaja dan termasuk juga prahara dalam bidang moral masyarakat.
Yang terakhir ini prahara yang tidak kasat mata, agak sulit mendeteksinya kecuali bagi orang-orang yang melek mata hatinya.
Jika orang-orang yang sukanya membuat prahara berupa kerusakan fisik dan memakan korban jiwa, dunia sepakat menggelarinya sebagai TERORIS maka sesungguhnya kita mesti adil bahwa disamping teroris-teroris kasat mata itu juga ada (bahkan jumlahnya lebih banyak) TERORIS-TERORIS MORAL.
Teroris moral ini tanpa terasa telah, sedang dan akan terus membuat kerusakan dan penghancuran-penghancuran dinegeri ini bahkan sasaran mereka bukan hanya hotel-hotel berbintang, para elit dan pejabat..tetapi sasaran mereka seluruh umat manusia dari yang kecil hingga yang besar, tua-muda, dan serangannya dilancarkan hingga ke rumah-rumah kita, tempat tidur kita bahkan ke dapur-dapur kita.
Dampak serangan teroris moral ini bukan jatuhnya korban bergelimpangan dan berdarah-darah dan sebagian yang hidup menjadi cacat fisiknya. Melainkan korban yang terkena fisik serangannya secara fisik akan Nampak sehat-sehat saja tetapi jiwa dan hatinya telah hancur berkeping-keping dan mati.
Ketahuilah bahwa teroris-teroris moral itu adalah orang atau pihak yang dengan sadar menyebar luaskan kemunkaran, mempertontonkan perbuatan dosa dan kekejian kepada khalayak, termasuk juga yang mensponsorinya dan yang mem-back up nya. Itulah para teroris moral.
Sesungguhnya kita wajib bersikap adil, jika para teroris fisik dihujat, dihukum berat dlsb. Maka para teroris moral inipun wajib diperlakukan sama. Tidak boleh ada pihak yang membelanya, sebab gerakan para teroris moral itu dikaji dari sisi manapun jelas tidak ada benarnya sedangkan dampak dari perbuatannya begitu membahayakan secara massif.
Saudaraku jika ada orang-orang yang dengan sadar melakukan aktifitas menyebarkan kemunkaran, berbuat dosa secara terang-terangan, meracuni hati manusia dengan kemaksiatan….itulah teroris moral. Demikian juga jika ada orang-orang yang mensponsori atau memback up nya.
Fenomena merebaknya kegiatan terorisme moral ini pada dasarnya sebenarnya karena telah hilangnya RASA MALU dalam hati manusia. Seandainya manusia masih memiliki rasa malu dalam hatinya pasti ia tidak akan berbuat maksiat apalagi mengajak orang bermaksiat.
عن أبي مسعودٍ عقبة بن عمرٍ الأنصاري البدري رضي الله عنه قال : قال رسول الله : إنّ ممّا أدرك النّاسُ من كلام النبوّةِ الأولى : إذا لم تستحي فاصنع ماشئت
(رواه البخاري)
Sesungguhnya sebagian yang masih diingat orang dari ajaran para Nabi terdahulu adalah; “Jika tidak malu, berbuatlah sesukamu”.
Pengertian hadits ini :
1. Perintah dalam hadits ini Menunjukan ancaman Allah swt bagi orang yang berbuat sesuka hatinya.
2. Pemberitahuan, bahwa orang yang berlaku sesuka hatinya adalah orang yang tidak punya rasa malu.
Rasul saw bersabda bahwa malu adalah sebagian dari iman, maka yang tidak memiliki rasa malu artinya sama saja dengan kehilangan sebagian dari imannya.
Mari kita tumbuh kembangkan rasa malu dalam hati kita, malu jika dilihat orang berbuat dosa, malu jika ketinggalan melakukan kebaikan, malu jika kita terkenal karena keburukan kita, seharusnya kita terkenal karena kebaikan kita.
TARHIB RAMADHAN
الحمد لله ربِّ العالمين والْعاقِبَةُ لِلْمُتَّقين ولا عُدْوَانَ إلاَّ عَلى الظَّالمِين # وأشهد أنْ لا إله إلاالله وحده لا شريك له ربَّ الْعالمين وإلََهَ المُرْسلِينَ وقَيُّوْمَ السَّمَوَاتِ والأَرَضِينْ # وأشهد أن محمَّدًا عَبْدُه ورسولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالكِتَابِ الْمُبِينْ اَلفَارِقِ بَيْنَ الهُدَى والضَّلالِ والْغَيِّ والرَّشادِ والشَّكِّ وَالْيَقِين # والصَّلاةُ والسَّلامُ عَلى حَبِْيبِنا و شَفِيْعِنا مُحمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسلين وإمامِ المُهْتَدِينَ وقَائِدِ المُجاهِدِينَ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبه أجْمَعَينْ.#
أما بعد، فياأيُّهَا المُسْلِمُونَ أوصِيكُمْ وإيايَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ والتَّمَسُّكِ بِهَذا الدِّينِ تَمَسُّكًا قَوِيًّا.
فقال الله تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم# “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ”
Hari ini kita sedang berada tepat dipertengahan bulan Sya'ban, kalau ada izin Allah, insya Allah dua pekan lagi kita akan memasuki bulan yang mulia, bulan yang penuh keutamaan, penghulu para bulan yaitu Ramadhan 1430 H.
Kita umat Islam sudah selayaknya mulai berkemas-kemas mempersiapkan diri dan segala rupa yang akan kita bawa menemui bulan barokah itu. Kita sambut kedatangannya dengan segala cinta dan suka cita, dengan segala harap dan kerinduan.
Menyambut bahagia kedatangan Ramadhan atau dalam bahasa fikih nya dikenal dengan istilah tarhib Ramadhan, adalah termasuk tuntutan iman yang sejati. Karena itulah Rasulullah SAW biasa melakukannya. Bahkan, Nabi SAW telah men-tarhib Ramadhan dua bulan sebelumnya. Yaitu sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik RA, ketika memasuki bulan Rajab Nabi SAW berdo'a,
اللَّهُمَّ بارِكْ لَنا في رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنا رَمَضَانَ
''Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah umur kami di bulan Ramadhan.'' (HR Imam Ahmad dan Ath Thabrani).
Kata tarhib berasal dari kata rahhaba, yurahhibu, tarhiiban yang berarti melapangkan dada dan menyambutnya dengan mesra serta senang hati. Maka istilah Tarhib Ramadhan maknanya adalah sebuah amalan dimana kita menyengaja mempersiapkan diri dengan penuh kelapangan hati, kesenangan dan kemesraan dalam menyambut kedatangan Ramadhan.
Secara tabi'at, manusia akan melakukan hal seperti itu karena sesuatu yang akan datang itu adalah yang istimewa, penuh dengan kebaikan dan sangat diidam-idamkan kedatangannya. Sebagaimana kita melakukan tarhib dalam rangka menyambut kedatangan orang tua yang kita rindukan atau kawan atau kerabat yang istimewa. Nah saudaraku, Ramadhan adalah tamu yang lebih istimewa dari apapun, jadi...sudahkan kita siapkan Tarhib untuknya?
Tarhib Ramadhan penting kita amalkan guna menanamkan kerinduan kepada Ramadhan sekaligus sebagai upaya persiapan diri / mental (isti'dad nafsiyah), persiapan spiritual (isti'dad ruhiyah) dan persiapan intelektual (isti'dad fikriyah). Tanpa persiapan mental, spiritual, dan intelektual, puasa Ramadhan hanya akan menjadi kegiatan ritual keagamaan tahunan tanpa makna, tanpa pahala dan tidak mampu memberikan pengaruh positif bagi kehidupan. Perhatikan sabda Nabi SAW, ''Berapa banyak orang yang puasa tidak mendapatkan kecuali lapar dan dahaga.'' (HR An Nasa'i dan Ibnu Majah).
Sebaliknya, dengan persiapan dan perbekalan yang maksimal akan mampu meraih sukses Ramadhan secara optimal.
Kenapa Ramadhan sangat istimewa ? Kita sudah sama-sama mafhum bahwa banyak keterangan yang datang kepada kita tentang keistimewaan Ramadhan; sampai-sampai di hari terakhir bulan Sya'ban, Rasulullah SAW mengkhususkan diri mengkondisikan umatnya dengan menyampaikan pidato 'kenegaraan' menyambut Ramadhan dengan menjelaskan keutamaan-keutamaannya,
''Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah. Di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya wajib dan qiyamul lail-nya sunnah. Barangsiapa yang mendekatkan diri dengan kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain. Barangsiapa yang mengerjakan kewajiban, makan seperti mengerjakan 70 kewajiban di bulan lain.
Dalam hadits lain disebutkan isi pidato Rasulullah saw itu adalah;
قَدْ جَاءكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ
"Sungguh, telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, dimana Allah mewajibkan kamu berpuasa, dibuka pintu-pintu syurga, ditutup pintu-pintu neraka, dibelenggu setan-setan. Di dalam Ramadhan terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Maka barangsiapa yang tak berhasil memperoleh kebaikan Ramadhan sungguh ia tidak akan mendapatkan itu buat selama-lamanya." (Riwayat Ahmad, Nasaa'i dan Baihaqy).
Saudaraku kaum Muslimin rahimakumullah,
Syekh Sa'id Hawwa menuliskan dalam Buku Al Islam (1) pada bagian "Tindak Lanjut Syahadatain" bahwa pada hakikatnya Ramadhan merupakan madrasah. Jika orang yang berpuasa pandai memanfaatkannya, mereka akan menjadi manusia baru, tidak seperti sebelumnya. Ramadhan adalah madrasah tempat seorang Muslim memperbarui ikatan-ikatan Islam pada dirinya dan mengambil bekal yang dapat menutupi segala kekurangan sebelumnya. Ramadhan adalah sebuah latihan (dauriyah) bagi kaum Muslimin untuk menyambut dunia baru dan meninggalkan dunia lama. Dunia yang penuh cita-cita, semangat dan kehidupan baru serta harapan yang membebaskan mereka dari keserakahan dunia dan mengingatkan akhirat serta Ridha Allah sebagai puncak tujuan yang tidak boleh hilang dari hati kaum Muslimin. Di bulan Ramadhan kaum Muslimin menyemarakkan masjid dengan berbagai halaqah ilmu, pengajian, dan dzikir. Sehingga orang yang dahulunya bodoh, di bulan Ramadhan, menjadi mengerti, yang dulunya lalai menjadi sadar dan yang dulunya acuh tak acuh menjadi ingat. Di bulan Ramadhan seluruh kaum muslimin mendapatkan Islam.
Subhanallah betapa banyak kemuliaan dan keutamaan terdapat didalam bulan Ramadhan itu, jadi jika kita sudah fahami ini sangat pantaslah jika kita mengkhususkan diri menyambutnya dengan penuh kesungguhan dan suka cita, tentunya dengan amalan-amalan yang memang dicontohkan dan tidak bertentangan dengan sunnah Rasulullah saw.
Hal ini kiranya perlu diingatkan kepada kita sebab pada kenyataannya masih banyak ummat Islam yang dalam rangka menyambut Ramadhan justru mengisinya dengan amalan-amalan yang "mengada-ada" sehingga cukup merepotkan bagi yang melakukannya, bahkan ada pula yang mengisinya dengan persiapan yang penuh dengan kemubadziran (kesia-siaan).
Pada prinsipnya amalan yang disunnahkan dalam tarhib Ramadhan adalah mencakup tiga persiapan tadi yaitu persiapan spiritual (isti'dad ruhiyah), persiapan intelektual (isti'dad fikriyah) dan persiapan diri / fisik (isti'dad nafsiyah jasadiyah), yang kesemuanya ini jika kita cermati adalah persiapan yang sifatnya memepersiapkan diri pribadi dalam rangka memasuki bulan Ramadhan yang didalamnya kita dituntut untuk banyak melakukan ibadah. Untuk itu tentunya tiga hal dalam diri kita ini perlu kita persiapkan.
• Persiapan hati ialah dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an, saum sunnah, dzikir, do’a dll. Rasulullah saw. mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan Dari Usamah bin Zaid, ia berkata:
وَلَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُوْرِ مَا تَصُوْمُ مِنْ شَعْبَان قال: ذاك شَهْرٌ يَغْفَلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فيه الأَعْمَالُ إلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ فَأُحِبُّ أَنْ يَرْفَعَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ (رواه أحمد وأبو داود وابن حزيمة والنسائى
Dari Usamah bin Zaid berkata: Saya bertanya: “Wahai Rasulullah saw, saya tidak melihat engkau puasa disuatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya’ban”. Rasul saw bersabda:” Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam kondisi puasa” (Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Huzaimah)
• Persiapan akal ialah dengan belajar mendalami ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan agar kita mampu melaksanakan ibadah Ramadhan dengan baik dan benar, tidak asal-asalan atau bahkan menyalahi syari'atnya.
• Dan persiapan fisik ialah dengan menjaga kesehatan, kebersihan rumah dan lingkungan serta menyiapkan harta yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan.
Inilah yang sesungguhnya dicontohkan oleh Rasulullah saw kepada kita dalam menyambut Ramadhan Karim ini. Adapun amalana-amalan yang banyak dilakukan umat Islam seperti ramai-ramai memadati komplek pekuburan untuk berziarah sebenarnya tidaklah secara khusus disyari'atkan menjelang Ramadhan sebab ketika Rasulullah mengajari kita tentang ziarah kubur beliau mengatakan; "dulu aku larang kalian berziarah kubur, tetapi sekarang berziarahlah untuk mengingat mati" itulah fungsi ziarah kubur dan selebihnya adalah mendo'akan ahli kubur tersebut, lebih dari itu tidak disunnahkan. Apalagi jika ada sebagian orang berziarah justru untuk memohon maaf atau memohon sesuatu kepada arwah, na'udzu billah itu adalah jalan-jalan khurafat yang akhirnya akan menyeret kita kedalam kesyirikan.
Akan tetapi saling memohon maaf sesama orang yang masih hidup menjelang Ramadhan, ini termasuk sesuatu yang dianjurkan dan termasuk kedalam persiapan hati, agar kita memasuki Ramadhan dengan hati yang tenang tidak dikungkung rasa bersalah atau dosa kepada sesama, dan karena yang kita mintai maaf adalah orang yang masih hidup, tentunya akan sangat mungkin orang tersebut bisa melakukan apa yang kita minta, lain halnya dengan orang yang sudah mati.
Hal lain yang sifatnya mengada-ada adalah sebagian orang disibukan dengan mengumpulkan air dari beberapa tempat tertentu yang akan dipakai mandi dan bersuci menjelang Ramadhan. Bahkan ada yang kebablasan, dibeberapa daerah mereka melakukan mandi bersama ditempat pemandian umum secara terbuka dan bercampur baur laki-laki dan perempuan, masya Allah mari kita renungkan, pantaskan ibadah shaum yang mulia sebagai ibadah khusus yang akan kita persembahkan bagi Allah justru kita awali dengan kemaksiatan ??? Astaghfirullah al 'azhim.
Inilah barangkali beberapa hal yang perlu kiranya kita fahami dan persiapkan sehubungan dengan kedatangan Dhoyfatul Muththohhir (Tamu yang membersihkan), Ramadhan Karim. Semoga kita diberi umur sampai kepadanya, bisa beribadah didalamnya, bisa mereguk nikmatnya berbagai kemuliaan dengan bimbingan Allah swt tentunya, aamin allahumma aamiin.
Marhaban Yaa Ramadhan,
Selamat menunaikan ibadah shiyam 1431 H.
Mohon maaf lahir dan bathin
Puisi Dakwah
Puisi Dakwah
Oleh: Ustadz Aus Hidayat Nur
Katakanlah, “Inilah jalanku, aku mengajak kalian kepada Allah dengan bashiroh, aku dan pengikut-pengikutku – mahasuci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik”.
Jalan dakwah panjang terbentang jauh ke depan
Duri dan batu terjal selalu mengganjal, lurah dan bukit menghadang
Ujungnya bukan di usia, bukan pula di dunia
Tetapi Cahaya Maha Cahaya, Syurga dan Ridha Allah
Cinta adalah sumbernya, hati dan jiwa adalah rumahnya
Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu
Nikmati perjalannya, berdiskusilah dengan bahasa bijaksana
Dan jika seseorang mendapat hidayah karenamu
Itu lebih baik dari dunia dan segala isinya…
Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu
Jika engkau cinta maka dakwah adalah faham
Mengerti tentang Islam, Risalah Anbiya dan warisan ulama
Hendaknya engkau fanatis dan bangga dengannya
Seperti Mughirah bin Syu’bah di hadapan Rustum Panglima Kisra
Jika engkau cinta maka dakwah adalah ikhlas
Menghiasi hati, memotivasi jiwa untuk berkarya
Seperti Kata Abul Anbiya, “Sesungguhnya sholatku ibadahku, hidupku dan matiku semata bagi Rabb semesta”
Berikan hatimu untuk Dia, katakan “Allahu ghayatuna”
Jika engkau cinta maka dakwah adalah amal
membangun kejayaan ummat kapan saja dimana saja berada
yang bernilai adalah kerja bukan semata ilmu apalagi lamunan
Sasarannya adalah perbaikan dan perubahan, al ishlah wa taghyir
Dari diri pribadi, keluarga, masyarakat hingga negara
Bangun aktifitas secara tertib tuk mencapai kejayaan
Jika engkau cinta maka dakwah adalah jihad
Sungguh-sungguh di medan perjuangan melawan kebatilan
Tinggikan kalimat Allah rendahkan ocehan syaitan durjana
Kerjakeras tak kenal lelah adalah rumusnya,
Tinggalkan kemalasan, lamban, dan berpangkutangan
Jika engkau cinta maka dakwah adalah taat
Kepada Allah dan Rasul, Alqur-an dan Sunnahnya
serta orang-orang bertaqwa yang tertata
Taat adalah wujud syukurmu kepada hidayah Allah
karenanya nikmat akan bertambah melimpah penuh berkah
Jika engkau cinta maka dakwah adalah tadhhiyah,
Bukti kesetiaan dan kesiapan memberi, pantang meminta
Bersedialah banyak kehilangan dengan sedikit menerima
Karena yang disisi Allah lebih mulia, sedang di sisimu fana belaka
Sedangkan tiap tetes keringat berpahala lipat ganda
Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsabat,
Hati dan jiwa yang tegar walau banyak rintangan
Buah dari sabar meniti jalan, teguh dalam barisan
Istiqomah dalam perjuangan dengan kaki tak tergoyahkan
Berjalan lempang jauh dari penyimpangan
Jika engkau cinta maka dakwah adalah tajarrud
Ikhlas di setiap langkah menggapai satu tujuan
Padukan seluruh potensimu libatkan dalam jalan ini,
Engkau da’i sebelum apapun adanya engkau
Dakwah tugas utamamu sedang lainnya hanya selingan
Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsiqoh
Kepercayaan yang dilandasi iman suci penuh keyakinan
Kepada Allah, Rasul, Islam, Qiyadah dan Junudnya
Hilangkan keraguan dan pastikan kejujurannya…
Karena inilah kafilah kebenaran yang penuh berkah
Jika engkau cinta maka dakwah adalah ukhuwwah
Lekatnya ikatan hati berjalin dalam nilai-nilai persaudaraan
Bersaudaralah dengan muslimin sedunia, utamanya mukmin mujahidin
Lapang dada merupakan syarat terendahnya , itsar bentuk tertingginya
Dan Allah yang mengetahui menghimpun hati-hati para da’ie dalam cinta-Nya
berjumpa karena taat kepada-Nya
Melebur satu dalam dakwah ke jalan Allah,
saling berjanji untuk menolong syariat-Nya
Engkaukah Itu Wahai Kekasihku ?
(al Hadits Mutafaq 'Alaih)
(HR Bukhari, Muslim)
Perawakannya sedang, Berambut hitam ikal, Kulitnya putih bersih, Wajahnya tampan, cemerlang menyejukan.
(Aku belum pernah merasa begitu tentram seperti tatkala menatap wajah agung itu, kendati bagiku beliau tidak terlalu terkesan wajah seorang Arab).
Dia bergamis warna coklat, amat bersahaja.
Sambil terisak, kami melantunkan nasyid… "Thola'al badru 'alayna..mintsaniyyatil wada'……."
(Mata beliau nampak berkaca-kaca)
Kucium tangannya…..terasa dingin sampai ke hati. Dan ketika kucium pipinya, Aku berbisik; "Do'akan saya yaa Rasulullah..!"
Beliau menjawab lirih; "Hari ini akan panas, tetaplah berdakwah....kamu akan merasa dingin"
Subhanallah, aku belum pernah merasakan ketentraman seperti ini, sementara aku tertegun, mencoba memahami makna ucapannya.
Duhai seandainya ini bukan terjadi dialam mimpi....
(Di Indrapura, malam jum'at menjelang subuh;
3 Dzulqo'dah 1427 H / 24 Nopember 2006 M)
Puisiku
------------------------------------------------------------------
KEKASIHKU...KATA ORANG CINTA ITU BERWARNA MERAH JAMBU
KARENA IA BERBALUT LEMBUTNYA KAIN BELUDRU
TAPI MAAF JIKA BAGIMU, CINTA KITA HANYA BERWARNA DEBU
SEBAB SELALU KUSANDING ENGKAU DALAM JAULAH-JAULAH PANJANG
DATANGI SETIAP ORANG YANG BERSEDIA MEMBUKA PINTU HATINYA UNTUK FAHAM AKAN HAKIKAT KEHIDUPANNYA.
KEKASIHKU, MAAFKAN JIKA CINTA KITA SELALU BERWARNA BIRU
SEPERTI SAJADAH YANG KUTINGGALKAN,
YANG SENANTIASA SETIA MENDENGAR KELUHANMU, SETIAP MALAM
SEMENTARA AKU TERUS BERJALAN DARI SATU HALAQOH KE HALAQOH YANG LAIN.
TAPI INIPUN KARENA ENGKAU SUDAH RELAKAN
AGAR JANGAN AKU HENTIKAN LANGKAH INI KARENA KALIAN.
SEPERTI TAUJIH ROBBANI YANG KITA FAHAMI DARI QS AT TAWBAH : 24
Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
AKU MASIH TERNGIANG PERTAMA KALI ENGKAU IJINKAN ....ADINDA
KATAMU....
”BERANGKATLAH DA’IKU, SEJAUH YANG ENGKAU MAMPU....
DATANGILAH SETIAP RUMAH YANG TERBUKA UNTUK DAKWAHMU...
KETUKLAH PINTU HATI MANUSIA DENGAN MA’RIFAT DAN ILMU MU,
KALAU KANDA PENAT, BERISTIRAHATLAH DIRUMAH TUHANMU
HIRUPLAH SEGALA JAMUAN YANG DIA HIDANGKAN,
KAMI HANYA MOHON DI DO’AKAN AGAR KAMI SABAR DAN RIANG DALAM PENANTIAN.
JIKA ADA JEDA WAKTU , PULANGLAH...
KARENA KAMI RINDU”
ADINDAKU, BIASANYA CINTA AKAN BERWARNA MERAH MUDA
SEPERTI DAHULU WAKTU KITA MASIH PUNYA BANYAK WAKTU UNTUK BERSAMA.
TAPI MAAFKAN JIKA KINI CINTA KITA HANYA BERWARNA MERAH JINGGA
SEPERTI SEMBURAT WARNA LANGIT TADI SENJA.
TOLONG AJAK SIKECIL KITA ISYA’ BERSAMA
DAN KATAKAN, BAHWA AYAHNYA MASIH DIMEDAN LAGA.
USAI DZIKIR MARI KITA BERCENGKRAMA DALAM DO’A-DO’A
YANG PENUH RONA.
TENTANG SEBUAH RUMAH BESAR, DENGAN TAMAN YANG LEBAR,
DIMANA PINTUNYA SELALU TERBUKA,
UNTUK PARA IKHWAH DATANG BERTANDANG,
MENYANDANG MUSHAF-MUSHAF DITANGAN.
TENTANG SEBUAH KENDARAAN YANG NYAMAN, DIMANA NANTI KANDA TAK LAGI PERGI SENDIRI DALAM BERJUANG.
AGAR KALIAN TERBAWA SERTA DAN TURUT RASAKAN
KENIKMATAN BERKORBAN DIJALAN PERJUANGAN.
TENTANG SEBIDANG KEBUN YANG SUBUR,
DIBAWAH RINDANGNYA, KITA GELAR SAJADAH DAN BERJAMAAH.
BUAHNYA UNTUK KITA, ANAK-ANAK KITA DAN PARA DHU’AFA.
KANDA HANYA INGIN ENGKAU TAHU ADINDAKU
BAHWA SATU SAAT NANTI,
MUNGKIN CINTA KITA AKAN BERWARNA MERAH SAGA
KARENA SAAT ITU,
AKU DEKAP BAYANGAN WAJAH-WAJAH KALIAN
DIBAWAH KILATAN CAHAYA API DAN BARA.
JANGAN TANYA WANGI BUNGA,
BAHKAN CINTA KITA AKAN BERBAU MESIU
KARENA SAAT ITU,
AKU KECUP KENING-KENING KALIAN, SEBELUM AKU BERLARI MENYONGSONG BAKTI,
DIBAWAH DESINGAN PELURU.
SETELAH ITU, TUNGGULAH AKU DIAMBANG PINTU RUMAH KITA DENGAN SETIA.
SAMPAI ENGKAU TERCIUM WANGI KESTURI YANG MENYEBAR KESELURUH RUANGAN DAN KAMAR TIDUR KITA.
LALU ENGKAU BERSUJUDLAH
DAN BERTAKBIRLAH....
SEBAB ENGKAU AKAN MENDENGAR KABAR GEMBIRA,
DAN JANGAN LUPA, SUNGGINGKAN SENYUMAN PENGANTIN MU BAGAI YANG DULU.
KARENA ENGKAU TAHU ISTERIKU.....SAAT ITU AKU TELAH MENEPATI JANJIKU.
BESOK PAGI, KABARKAN PADA BUAH HATI KITA,
BAHWA AYAHNYA TELAH MEMBERI MEREKA NAMA.....
”ANAK-ANAK SYUHADA”
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?
Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu,
dan itulah kemenangan yang besar. (QS At Tawbah : 111)





